Jakarta, SayapBerita.com – Pasca banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Tamiang, akses menuju Desa Tanjung Karang kini terputus total akibat tumpukan kayu besar yang menyumbat jalan utama. Material kayu yang terbawa arus deras itu memenuhi badan jalan hingga mencapai ketinggian beberapa meter, membuat kendaraan sama sekali tidak bisa melintas. Kondisi ini membuat warga desa terisolasi dan kesulitan mendapatkan bantuan logistik. Banjir bandang yang terjadi setelah hujan berintensitas tinggi itu tidak hanya menghanyutkan pepohonan dan material dari kawasan hulu, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas umum.
Jalan desa yang semula dapat lalui kendaraan roda empat kini berubah menjadi hamparan kayu, lumpur, dan batu besar. Sejumlah warga yang mencoba mengevakuasi diri terpaksa menunda perjalanan karena jalur sama sekali tidak dapat tembus. Pemerintah daerah menyatakan sedang mengerahkan tim gabungan untuk membuka kembali akses desa, namun proses pembersihan perkirakan membutuhkan waktu lama karena volume material sangat besar dan alat berat sulit masuk ke lokasi.
Warga Terisolasi dan Kesulitan Logistik
Sejak akses utama tertutup, warga Desa Tanjung Karang mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan mulai menipis. Sebagian warga yang membutuhkan perawatan medis juga terpaksa tangani secara mandiri akibat sulitnya keluar dari desa. Tim relawan yang hendak menyalurkan bantuan pun harus mencari jalur alternatif dengan berjalan kaki melalui area perbukitan. Jalur tersebut memerlukan waktu tempuh lebih lama dan tidak aman karena kondisi tanah yang masih labil pascahujan deras.
Kondisi ini membuat penyaluran bantuan tidak bisa lakukan secara cepat dan merata. Beberapa kelompok warga membuat dapur darurat sambil memanfaatkan bahan makanan seadanya. Mereka berharap bantuan bisa segera mencapai desa sebelum persediaan benar-benar habis. Di sisi lain, pihak pemerintah mengimbau warga tetap waspada mengingat potensi banjir susulan masih mungkin terjadi jika hujan turun kembali.
Upaya Pembukaan Akses dan Tantangan di Lapangan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama TNI, Polri, dan relawan tengah berupaya menyingkirkan tumpukan kayu yang memblokir jalan. Upaya pembersihan ini memerlukan alat berat seperti ekskavator, tetapi medan yang terjal serta kondisi jalan yang rusak membuat alat berat sulit masuk. Akhirnya, sebagian pekerjaan harus lakukan secara manual untuk membuka jalur kecil bagi pejalan kaki. Pemerintah daerah menargetkan setidaknya dapat membuka akses darurat sementara agar bantuan bisa masuk lebih cepat. Namun cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar, karena hujan kembali dapat menggagalkan proses pembersihan dan memperparah kondisi di lapangan.
Selain membuka jalur, pemerintah juga sedang memetakan titik-titik rawan longsor untuk menghindari kecelakaan tambahan selama proses pembersihan berlangsung. Warga yang tinggal di dekat bantaran sungai diminta untuk tetap siaga dan mengungsi ke lokasi aman jika debit air meningkat. Tumpukan kayu yang memutus akses ke Desa Tanjung Karang menjadi gambaran betapa besarnya kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang kali ini. Proses pemulihan perkirakan tidak singkat, namun upaya bersama dari pemerintah, relawan, dan warga diharapkan dapat membuka kembali jalur dan memulihkan kondisi desa secara bertahap.
