SANGHAI, SayapBerita.com = China Revolusi Teknologi Militer Kapal Induk Drone China Mulai Uji Coba kembali membuat gebrakan di dunia pertahanan. Kali ini, negara tersebut tengah menguji coba kapal serbu amfibi Tipe 076 bernama Sichuan, yang dijuluki “kapal induk drone” karena kemampuannya membawa pesawat nirawak (drone).
Apa yang Menarik dari Kapal Ini?
- Ukuran Besar, Kapasitas Tinggi
Kapal Sichuan kenal sebagai salah satu kapal terbesar di kelasnya. Dengan dek penerbangan yang panjang, ia didesain khusus untuk meluncurkan drone secara efisien. - Sistem Peluncuran Modern
Kapal ini menggunakan sistem pelontaran elektromagnetik (EMALS) untuk meluncurkan pesawat nirawak teknologi yang canggih dan relatif jarang terapkan di kapal jenis serbu amfibi. - Uji Laut Sebagai Langkah Besar
Uji coba laut terbaru fokus pada pengujian kelistrikan, tenaga mesin, dan stabilitas sistem kapal. - Rencana Penyerahan ke Angkatan Laut
Menurut laporan, PLA (Pasukan Pembebasan Rakyat China) diperkirakan akan menerima kapal ini pada akhir 2026.
Selain Kapal: “Drone Mother Ship” di Langit
Tak hanya di laut, China juga mengembangkan “kapal induk” untuk drone di udara: Jiu Tian (artinya “Langit Tinggi”). Ini adalah pesawat nirawak ber-altitude sangat tinggi (HALE) yang bisa membawa dan meluncurkan hingga 100 unit drone kecil sekaligus termasuk drone kamikaze.
- Jiu Tian memiliki jarak jangkau hingga 7.000 km dan bisa terbang hingga ketinggian sekitar 15.000 meter.
- Pesawat ini juga bisa menampung 6 ton muatan, yang memungkinkan membawa berbagai jenis misi drone: pengintaian, serangan, bahkan jamming.
- Uji terbang pertamanya perkirakan mulai pada akhir Juni 2025, menurut laporan media negara dan lembaga analisis pertahanan.
Teknologi Lanjutan: Drone VTOL & Helikopter Nirawak
Di samping Jiu Tian, China memperkenalkan jenis drone jet dengan kemampuan VTOL (Vertical Take-Off and Landing).
- Drone ini bisa lepas landas secara vertikal (seperti helikopter) lalu beralih ke mode penerbangan cepat. Menggunakan mesin jet membuatnya fleksibel dan efektif untuk penggunaan laut, bahkan dari dek kapal kecil.
Perancangannya bisa mengubah kapal perang biasa menjadi “mini kapal induk” tanpa memerlukan dek lepas landas tradisional yang panjang.
Selain itu, helikopter nirawak AR-500CJ juga telah melakukan uji laut bersama kapal eksperimental drone. Keberadaan helikopter UAV ini menunjukkan bahwa China ingin mengeksplorasi berbagai jenis pesawat tanpa awak tidak hanya pesawat sayap tetap tetapi juga vertikal.
Mengapa Ini Penting dari Perspektif Strategis
Proyeksi Kekuatan Militer
Dengan kapal induk drone di laut dan udara, China memperluas kapabilitas proyeksi kekuatan militer tanpa mengandalkan pesawat berawak tradisional. Ini bisa menjadi alat strategis untuk dominasi di wilayah laut seperti Laut China Selatan.
Asimetri dan Efisiensi
Drone kecil bisa luncurkan dalam jumlah besar (“swarm”), memberikan keunggulan asimetris dan membuat pertahanan lawan kesulitan mendeteksi dan menangkis secara efektif.
- Pengurangan Risiko
Karena sistem ini berbasis nirawak, risiko terhadap awak manusia berkurang drastis. Kehilangan drone lebih dapat toleransi banding kehilangan pilot atau kapal induk tradisional. - Tantangan untuk Musuh
Pertahanan udara musuh bisa kewalahan menghadapi ratusan drone kecil sekaligus, terutama jika luncurkan dari jarak jauh dan dari platform tak konvensional seperti Jiu Tian.
Tantangan dan Isu yang Mungkin Muncul
- Integrasi Teknologi: Menggabungkan sistem peluncuran elektromagnetik di kapal amfibi dengan drone performa tinggi dan sistem kontrol swarm adalah tantangan teknis besar.
- Keandalan Sistem: Uji laut dan penerbangan awal sangat penting untuk mengidentifikasi potensi kegagalan atau kelemahan mesin, sistem kontrol, komunikasi, dan stabilitas penerbangan harus benar-benar uji.
- Respons Internasional: Negara-negara lain kemungkinan akan mengamati dengan cermat perkembangan ini, karena bisa mengubah dinamika militer regional dan global.
- Etika dan Regulasi: Penggunaan drone kamikaze dalam skala besar menimbulkan pertanyaan etika dan regulasi peperangan masa depan.
Uji coba kapal induk drone Sichuan dan pengembangan “drone mothership” Jiu Tian mencerminkan dorongan ambisius China untuk memodernisasi militernya dengan cara yang sangat futuristik. Jika sukses, kombinasi platform laut dan udara berbasis drone ini bisa menjadi game changer dalam strategi militer global. Namun, jalan menuju operasi penuh masih panjang dan penuh tantangan baik secara teknis, operasional, maupun diplomatis.

