Beijing, SayapBerita.com – Hubungan antara China dan Jepang memanas, dan dampaknya terasa bahkan di sektor pariwisata maritim. Beberapa operator kapal pesiar China kini mengubah rute mereka, sengaja menghindari pelabuhan Jepang demi menghindari risiko diplomatik. Ketegangan diplomatik antara Beijing dan Tokyo kembali meningkat menyusul pernyataan kontroversial dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyinggung kemungkinan respons militer Jepang apabila China menyerang Taiwan. Sikap keras itu memicu reaksi keras dari China. Di tengah gejolak, kapal pesiar berawak China berusaha menjauh dari pelabuhan Jepang untuk mengurangi potensi risiko dan kontroversi.
Dampak terhadap Rute Kapal Pesiar
Salah satu kapal pesiar yang menjadi sorotan adalah. Adora Magic City, yang biasanya singgah di pelabuhan Fukuoka, Sasebo, dan Nagasaki di Jepang. Menurut jadwal baru untuk bulan Desember, kapal ini akan melewati pelabuhan-pelabuhan tersebut dan malah memperpanjang waktu di Pulau Jeju, Korea Selatan dari biasanya sekitar 9 jam menjadi 31–57 jam.
Seorang pejabat dari Provinsi Jeju bahkan mengindikasikan bahwa perubahan jadwal ini mungkin sebabkan oleh “hubungan Tiongkok-Jepang,” meskipun operator pesiar tidak memberikan penjelasan resmi. Lebih dari itu, beberapa operator kapal pesiar China lainnya juga laporkan sedang membahas opsi rerute ke pelabuhan di Korea Selatan seperti Incheon atau Busan.
Kerugian bagi Jepang, Untung bagi Korea Selatan
Ketegangan ini tak hanya soal simbol diplomatik dampaknya nyata dalam bisnis pariwisata Jepang. Menurut laporan, ada operator perjalanan Jepang yang mengalami penurunan pemesanan hingga 80% dari wisatawan China.
Sebaliknya, Korea Selatan prediksi menjadi “penerima keuntungan” dari pergeseran arus pariwisata ini. Sebagian kapal pesiar China sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di pelabuhan. Korea Selatan, dan beberapa maskapai penerbangan China sudah menawarkan rute ke sana sebagai alternatif.
Makna Lebih Dalam
- Bias Pariwisata sebagai Alat Diplomasi
Keputusan operator pesiar China mencerminkan betapa besar dampak geopolitik pada industri pariwisata. Bukan hanya persoalan bisnis semata, tetapi juga pertaruhan diplomasi. - Isyarat Kebijakan Timbal Balik
Tindakan menghindari pelabuhan Jepang bisa jadi bagian dari strategi China dalam memberi sinyal bahwa hubungan bilateral dapat memengaruhi sektor ekonomi sensitif seperti pariwisata. - Peluang bagi Korea Selatan
Korea Selatan tampak mendapatkan momentum sebagai “relief valve” bagi turisme China yang sebelumnya mengandalkan Jepang. Jika tren ini berlanjut, bisa menjadi keuntungan strategis ekonomi jangka panjang. - Risiko Ketidakpastian
Perubahan rute secara tiba-tiba dapat menimbulkan risiko logistik, operasional, dan keuangan bagi operator pesiar terutama jika ketegangan tidak cepat mereda.
Kapten dan operator kapal pesiar China kini menghadapi dilema geopolitik: melanjutkan kunjungan ke. Jepang yang berisiko atau mencari rute aman melalui Korea Selatan. Keputusan ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga simbol dalam persaingan diplomatik antara dua negara besar. Jika ketegangan terus meningkat, peta pariwisata Asia Timur bisa berubah signifikan.
