Komisi X DPR Adu Jotos Siswa Guru Jambi Soroti Wibawa Sekolah

Komisi X DPR Adu Jotos Siswa Guru Jambi Soroti Wibawa Sekolah

Jakarta, SayapBerita.Com – Komisi X DPR menanggapi serius insiden adu jotos antara siswa dan guru di salah satu sekolah di Jambi, yang viral di media sosial beberapa hari terakhir. Insiden ini menjadi sorotan karena anggap mencoreng wibawa dunia pendidikan dan merusak citra sekolah sebagai lembaga pembinaan karakter.

Anggota Komisi X DPR menegaskan bahwa kekerasan fisik, baik lakukan siswa maupun guru, tidak bisa benarkan dalam kondisi apapun. “Sekolah harus menjadi tempat belajar dan menanamkan disiplin, bukan arena kekerasan. Tindakan ini jelas melanggar kode etik guru dan tata tertib siswa,” tegas anggota Komisi X. DPR mendorong pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk segera melakukan investigasi dan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Kejadian ini memicu diskusi publik mengenai pentingnya wibawa guru dan penguatan karakter siswa. Banyak netizen menilai, insiden ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan disiplin di sekolah, yang seharusnya menjadi lingkungan aman dan kondusif untuk belajar. Komisi X DPR menekankan bahwa pembinaan karakter sejak dini harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang.

Soroti Wibawa Sekolah dan Tindakan Pencegahan

Selain menyoroti pelaku, Komisi X DPR juga menekankan pentingnya peninjauan kembali sistem pengelolaan sekolah. Wibawa guru yang menurun dan perilaku agresif siswa dapat merusak suasana belajar, sehingga perlukan langkah tegas berupa pembinaan, pelatihan manajemen kelas, dan pendampingan psikologis.

DPR meminta agar pihak sekolah mengimplementasikan program pencegahan kekerasan yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Misalnya, melalui pendidikan karakter, manajemen emosi, serta mekanisme pengaduan yang transparan bagi siswa maupun guru. Pendekatan ini harapkan tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga mengedukasi seluruh komunitas sekolah mengenai pentingnya sikap saling menghormati.

Komisi X juga menekankan bahwa guru sebagai figur otoritas harus tetap menjaga wibawa, namun tetap mendidik dengan cara yang bijak dan profesional. Sementara siswa perlu bekali keterampilan kontrol emosi agar konflik tidak berujung kekerasan fisik.

Insiden ini menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa dunia pendidikan tidak boleh biarkan tanpa pengawasan dan disiplin yang jelas. Dengan tindakan tegas dan pembinaan berkelanjutan, harapkan sekolah dapat kembali menjadi lingkungan belajar yang aman, disiplin, dan penuh penghormatan.