Jakarta, SayapBerita.com – Ketegangan meningkat di pentas diplomasi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mengusulkan kesepakatan perdamaian dengan Rusia yang melibatkan penyerahan wilayah Ukraina. Namun, negara-negara Eropa menolak keras gagasan itu, menegaskan bahwa integritas teritorial Ukraina tidak dapat negosiasikan.
Menurut laporan pejabat senior Ukraina dan Eropa, AS sempat membahas kerangka perdamaian di mana Ukraina harus menyerahkan sejumlah wilayah termasuk bagian dari Donbas, Kherson, dan Zaporizhzhia sebagai imbalan gencatan senjata. Rencana itu laporkan sampaikan dalam konteks pertemuan perdamaian trilateral antara Amerika, Rusia, dan politisi pendukung kesepakatan.
Sikap Tegas Eropa & Ukraina
Uni Eropa menyatakan bahwa rakyat Ukraina harus punya hak penuh menentukan masa depan negaranya sendiri. Dalam pernyataan bersama, pemimpin sejumlah negara Eropa menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh lakukan dengan memberikan wilayah Ukraina sebagai hadiah:
“Jalan menuju perdamaian … tidak dapat putuskan tanpa melibatkan Ukraina.”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara tegas menolak semua wacana penyerahan wilayah ke Rusia. Dia menegaskan bahwa konstitusi Ukraina menyatakan wilayah negara tersebut
“tak terpisahkan dan tak boleh langgar.” Menurut Zelensky,
setiap negosiasi yang mengecualikan Kyiv hanya akan menjadi keputusan “mati” yang tidak akan memicu perdamaian sejati.
Ketegangan Diplomatik AS Eropa
Penolakan Eropa atas proposal AS ini menandai perbedaan mendasar dalam strategi penyelesaian konflik. Beberapa diplomat Eropa melihat usulan tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap kedaulatan Ukraina dan potensi mengubah peta keamanan Eropa. Uni Eropa juga menyerukan agar Rusia menunjukkan niat politik nyata untuk mengakhiri perang bukan hanya melalui pertukaran wilayah. Tetapi dengan jaminan keamanan yang kredibel dan mekanisme perdamaian berkelanjutan.
- Legitimasi internasional: Jika kompromi wilayah jadi bagian dari perjanjian, akan membuka preseden berbahaya bahwa agresi militer bisa “ hadiahi” dengan konversi politik.
- Keamanan Eropa: Konsesi wilayah bisa melemahkan posisi Ukraina di masa depan dan melemahkan stabilitas regional.
- Moral dan legitimasi Ukraina: Menyerahkan wilayah yang kuasai secara total atau sebagian dapat menimbulkan perpecahan politik dan sosial di dalam negeri Ukraina.
Jalan Tengah Eropa-Ukraina
Sebagai alternatif, negara Eropa bersama Ukraina kini menyusun proposal perdamaian 12 poin yang berfokus pada gencatan senjata terlebih dahulu, pertukaran tawanan, dan jaminan keamanan yang jelas bukan konsesi teritorial. Rencana tersebut tidak menyertakan pengakuan permanen atas wilayah yang dirampas Rusia. Dan menolak setiap usaha untuk “menukar wilayah” sebagai dasar perdamaian.
Penolakan Eropa terhadap rencana damai AS yang menyertakan penyerahan wilayah menunjukkan betapa prinsip kedaulatan Ukraina tetap menjadi garis merah. Di tengah tekanan internasional, Uni Eropa dan Kyiv tampak sepakat bahwa perdamaian sejati hanya bisa bangun tanpa mengorbankan integritas teritorial. Sementara itu, dinamika diplomasi global tetap sangat cair bagaimana masa depan konflik Ukraina akan sangat tergantung pada apakah semua pihak mampu merumuskan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
