Lumajang, Jawa Timur, SayapBerita.com – Gunung Semeru kini berada pada level IV (Awas) setelah aktivitas vulkanik melonjak drastis. Dalam kurun waktu hanya enam jam (pukul 00.00–06.00 WIB), tercatat 32 kali gempa guguran yang menandakan kondisi sangat tidak stabil.
Apa Itu Gempa Guguran?
Gempa guguran terjadi ketika material vulkanik seperti batu panas, lava, atau debu terlepas dan runtuh di sisi gunung. Peristiwa ini dapat menghasilkan aliran awan panas (pyroclastic flow) yang sangat berbahaya. Dalam laporan pengamatan, gempa-guguran ini memiliki amplitudo antara 3 hingga 16 mm dan berlangsung selama 69–108 detik.
Aktivitas Lainnya yang Tercatat
Selain gempa guguran, selama periode tersebut Semeru juga mencatat:
- 25 kali gempa letusan (erupsi), dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 71–141 detik
- 1 gempa embusan, amplitudo 3 mm dan durasi 67 detik
- 1 gempa tektonik jauh, amplitudo 30 mm, waktu S-P 21 detik, dan durasi 77 detik
Respons dan Imbauan dari PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung menaikkan status Semeru ke Level IV (Awas) per hari Rabu malam. Beberapa imbauan penting dikeluarkan:
- Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah/puncak Semeru, karena bahaya lontaran batu pijar sangat tinggi.
- Di sektor tenggara (aliran sungai Besuk Kobokan), aktivitas larang hingga jarak 20 km dari puncak, karena potensi awan panas atau lahar bisa meluas ke wilayah tersebut.
- Warga juga minta mewaspadai potensi awan panas guguran, lahar, dan batu pijar terutama di lembah-lembah berhulu di puncak Semeru.
Kondisi Visual dan Cuaca
Menurut pengamatan visual dari pos pengamatan, kawah Semeru tidak mengeluarkan asap tebal saat itu cuaca cenderung berkabut (kabut 0–II), dengan angin lemah ke arah utara hingga tenggara.
Kenapa Ini Jadi Perhatian Besar
- Lonjakan gempa guguran dalam waktu singkat menunjukkan bahwa gunung sangat aktif dan berpotensi mengalami letusan cukup besar atau aliran awan panas tiba-tiba.
- Status Awas menandakan potensi bahaya sangat tinggi bagi komunitas di sekitar lereng, terutama bagi yang berada di lembah aliran sungai Semeru.
- Kewaspadaan harus tingkatkan, dan evakuasi bisa jadi perlukan jika aktivitas kembali meningkat.
Gempa guguran 32 kali dalam enam jam adalah sinyal serius bahwa Semeru sedang berada dalam fase kritis. Warga di sekitar gunung harus sangat berhati-hati dan mengikuti rekomendasi resmi PVMBG. Pemantauan vulkanik pun perlu perketat untuk mengantisipasi skenario terburuk.
