Jakarta, SayapBerita.Com – Aksi protes yang berlangsung di berbagai kota Iran dalam beberapa minggu terakhir semakin memanas dan menjadi isu internasional. Di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang awalnya picu oleh tekanan ekonomi dan inflasi tinggi, Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) secara tegas memperingatkan bahwa menjaga keamanan nasional merupakan “garis merah” yang tidak boleh langgar. Pernyataan ini sampaikan IRGC sebagai respons terhadap eskalasi unjuk rasa yang menurut pemerintah telah berubah menjadi ancaman terhadap stabilitas nasional.
Pernyataan serupa juga tegaskan melalui media pemerintah, di mana IRGC menilai tindakan para demonstran, termasuk insiden pembakaran gedung publik di Karaj dan bentrokan dengan aparat keamanan, sebagai tindakan yang melampaui batas. Menurut IRGC, kelompok yang mereka sebut sebagai “teroris” telah menargetkan fasilitas militer dan pos keamanan, menyebabkan kematian sejumlah warga sipil dan petugas keamanan. Dalam konteks ini, menjaga pencapaian Revolusi Islam 1979 serta keamanan publik sebut sebagai prioritas yang tak bisa tawar.
Reaksi keras ini muncul bersamaan dengan pernyataan dari negara luar, termasuk dukungan Presiden Amerika Serikat dan pejabat lain terhadap para demonstran yang berjuang melawan pemerintah Iran. Langkah ini justru memperkuat narasi pejabat Iran bahwa ada campur tangan asing dalam memicu dan memperluas protes tersebut. Pemerintah Iran bahkan menuduh keterlibatan pihak luar dalam “menghasut kerusuhan” yang mereka sebut berupaya menggoyahkan stabilitas negara.
Ketegangan Meningkat, Kesiapan Pasukan dan Respons Pemerintah
Sebagai bagian dari upaya menegakkan kontrol, IRGC dan militer Iran memperluas kehadiran pasukan di wilayah yang rawan gejolak. Laporan dari saksi mata menyebutkan bahwa aparat keamanan membuka tembakan dalam beberapa insiden bentrokan, sementara jaringan internet nasional batasi guna mengendalikan arus informasi dan komunikasi para demonstran. Upaya ini nilai sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah protes lebih meluas.
Militer Iran juga menyatakan komitmen mereka untuk melindungi properti publik. Infrastruktur strategis, dan kepentingan nasional lainnya dari aksi demonstran yang menurut mereka “tunggangi” oleh agenda yang lebih luas. Iran bahkan menyebut pihak asing sebagai pihak yang mencoba memanfaatkan situasi domestik untuk melemahkan struktur keamanan dan pemerintahan negeri. Pernyataan ini muncul secara bersamaan dengan laporan bahwa puluhan demonstran dan petugas keamanan telah tewas dalam bentrokan. Serta ribuan orang tangkap sepanjang gelombang protes.
Sementara itu, analis internasional mencatat bahwa respons keras pemerintah Iran. Terhadap demonstrasi ini mencerminkan kekhawatiran rezim akan potensi terjadinya krisis politik yang lebih besar. Banyak kelompok hak asasi internasional mengecam tindakan keras. Tersebut dan menyerukan dialog serta pendekatan yang lebih damai untuk merespons tuntutan masyarakat. Pemerintah Iran, di sisi lain. Tetap bersikukuh bahwa keamanan nasional adalah non-negotiable, dan tindakan tegas akan terus berlakukan untuk menjaga tatanan serta stabilitas negara.
