SayapBerita.Com – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat sebanyak 5.168 hektare areal persawahan terdampak banjir yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir. Banjir tersebut picu oleh tingginya curah hujan serta meluapnya sungai-sungai besar yang melintasi kawasan pertanian. Akibatnya, ribuan petani terancam gagal panen dan mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Lahan persawahan yang terdampak tersebar di beberapa kecamatan dengan kondisi genangan yang bervariasi. Sebagian sawah terendam air selama beberapa hari, sementara lainnya masih tergenang hingga kini. Kondisi ini sangat memengaruhi pertumbuhan padi, terutama tanaman yang sedang berada pada fase tanam dan pembungaan.
Ribuan Hektare Sawah Terendam, Petani Terancam Gagal Panen
Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, banjir menyebabkan tanaman padi membusuk dan mengalami kerusakan pada batang serta akar. Air yang menggenang terlalu lama membuat unsur hara tanah berkurang dan memicu serangan hama serta penyakit tanaman. Jika kondisi ini terus berlanjut, potensi gagal panen tidak dapat hindari.
Para petani mengaku kesulitan melakukan penyelamatan tanaman karena debit air yang belum sepenuhnya surut. Selain itu, keterbatasan alat dan akses menuju lahan sawah yang terendam memperlambat upaya penanganan. Kerugian yang alami petani perkirakan mencapai jutaan rupiah per hektare, terutama bagi mereka yang baru saja melakukan penanaman.
Banjir ini juga berdampak pada jadwal tanam berikutnya. Banyak petani terpaksa menunda musim tanam karena kondisi lahan belum memungkinkan untuk diolah kembali. Jika keterlambatan terus terjadi, produksi beras di Kabupaten Bekasi berpotensi menurun dalam beberapa bulan ke depan.
Langkah Dinas Pertanian dan Upaya Penanganan Banjir
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menyatakan telah melakukan pendataan detail terhadap lahan pertanian yang terdampak banjir. Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk mengajukan bantuan kepada pemerintah provinsi dan pusat, termasuk bantuan benih, pupuk, serta program pemulihan lahan pascabanjir.
Selain itu, penyuluh pertanian terjunkan ke lapangan untuk memberikan pendampingan kepada petani. Mereka memberikan edukasi terkait langkah-langkah penanganan tanaman padi pascagenangan air, seperti pemupukan ulang dan pengendalian hama. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat surutnya genangan melalui normalisasi saluran air.
Ke depan, Dinas Pertanian menekankan pentingnya perbaikan sistem irigasi dan drainase untuk mengurangi risiko banjir di area persawahan. Perubahan pola cuaca yang semakin ekstrem menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. Oleh karena itu, perlukan kolaborasi antara pemerintah dan petani agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga meski di tengah ancaman bencana alam.
