Jakarta, SayapBerita.com – Sebuah alarm serius kini gaungkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait kondisi kesehatan mental warganya. Wakil Gubernur (Wagub) menyoroti data terbaru yang menunjukkan angka depresi di ibu kota lebih tinggi banding rata-rata nasional, sebuah sinyal kuat bahwa penanganan masalah kesehatan jiwa harus tingkatkan segera. Menurut Kementerian Kesehatan, prevalensi depresi pada penduduk Jakarta usia di atas 15 tahun mencapai 1,5 persen, sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di 1,4 persen.
Lebih jauh, dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, masalah kesehatan jiwa menempati posisi kedua dari 10 penyakit paling umum di kelompok usia tersebut.
Risiko Tinggi: Depresi dan Kecemasan di Jakarta
Data lain yang peroleh dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa potensi gejala depresi dan kecemasan di Jakarta sangat tinggi. Dari ribuan peserta skrining, 9,3 persen menunjukkan indikasi depresi, sementara 7,6 persen menunjukkan gejala kecemasan. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional untuk gejala-gejala tersebut, yang menurut Kemenkes “hanya” sekitar 1 persen untuk depresi dan 0,9 persen untuk kecemasan.
Hambatan Berat: Stigma & Rendahnya Akses Terapi
Meski prevalensi cukup mengkhawatirkan, hanya sebagian kecil dari mereka yang mengalami depresi atau kecemasan benar-benar mencari bantuan medis:
- Hanya 12,7 persen individu dengan depresi yang mengakses pengobatan.
- Untuk gangguan kecemasan, angkanya bahkan lebih rendah, yakni 0,7 persen.
Salah satu faktor utama adalah stigma sosial yang masih melekat kuat di masyarakat. Banyak orang takut dilabeli “kurang kuat iman” atau “ODGJ” jika mengakui perjuangan mental mereka dan meminta pertolongan. Kurangnya kesadaran diri terhadap gejala depresi atau kecemasan juga menjadi penghalang besar agar individu mau menjalani skrining dan terapi lebih awal.
Upaya Penanganan: Wagub Dorong Survei dan Layanan Konseling
Menanggapi data tersebut, Wagub DKI meminta agar survei kesehatan mental lebih komprehensif lakukan di Jakarta. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran lebih jelas siapa saja yang rentan, apa faktor penyebab, dan bagaimana intervensi bisa terapkan dengan tepat.
Selain itu, Pemprov DKI melalui Dinas Kesehatan aktif mengedukasi warga untuk memanfaatkan layanan konseling:
- Layanan JakCare (Jakarta Counseling and Assistance for Resilience and Empowerment) tersedia bagi warga Jakarta yang mengalami kecemasan atau tekanan psikologis.
- Konseling dapat akses gratis melalui aplikasi JAKI atau telepon 0800-1500-119.
- Untuk kasus kegawatdaruratan psikiatri, sistem JakCare dapat langsung menghubungkan pengguna ke unit krisis dan fasilitas kesehatan terkait.
- Wagub dan Kemenkes menekankan pentingnya skrining kesehatan jiwa secara rutin agar deteksi dini bisa lakukan dan depresi tak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.
Mengapa Jakarta “Lebih Rentan”?
Beberapa ahli menyebut beberapa faktor lokal kota besar seperti tekanan hidup perkotaan, pola hidup yang padat, stres komuter, dan polusi sosial bisa memperparah risiko masalah mental di ibu kota. Selain itu, tekanan stigma di masyarakat perkotaan juga terasa lebih intens, mencegah banyak orang untuk membuka diri tentang kondisi jiwanya.
Desakan Wagub untuk survei dan intervensi menandai momen penting:
- Data survei akan menjadi dasar kebijakan kesehatan mental lebih proaktif, bukan hanya reaktif.
- Bisa muncul program edukasi massal tentang kesehatan mental, termasuk pengurangan stigma lewat kampanye publik.
- Deteksi dini melalui skrining secara sistematis dapat menyelamatkan banyak orang dari depresi berat atau potensi bunuh diri.
- Integrasi layanan konseling (seperti JakCare) dengan fasilitas primer (puskesmas) akan memperluas jangkauan penanganan kesehatan jiwa.
Wagub DKI telah mengangkat isu yang sangat penting dan sensitif: depresi warga Jakarta lebih tinggi dari rata-rata nasional. Dengan sinyal bahaya ini, langkah-langkah konkret perlukan: survei mendalam, kampanye kesadaran, skrining massal, dan akses ke layanan mental. Tanpa penanganan segera, potensi krisis kesehatan mental di ibu kota bisa membesar tetapi dengan strategi tepat, Jakarta bisa menjadi teladan dalam penanganan depresi di kota besar.
