7 Kecamatan di Padang Pariaman Terendam Usai 4 Sungai Meluap

7 Kecamatan di Padang Pariaman Terendam Usai 4 Sungai Meluap

Jakarta, SayapBerita.comwilayah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dilanda banjir hebat dan tanah longsor akibat hujan deras yang berlangsung berjam-jam. Kondisi ini memicu meluapnya beberapa sungai utama, menyebabkan tujuh kecamatan terdampak parah.

Apa yang Terjadi dan Penyebab Banji­r

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman melaporkan bahwa hujan ekstrem menjadi pemicu utama banjir. Curah hujan yang tinggi meningkatkan debit air di sungai-sungai lokal, seperti Batang Ulakan, Batang Sei Gimba, dan Batang Tapakih. Akibatnya, aliran sungai tidak mampu menahan volume air dan meluap ke pemukiman sekitarnya. Tak hanya banjir, struktur tanah di beberapa tempat menjadi labil karena saturasi air, memicu pergerakan tanah dan longsor.

Wilayah Terdampak: 7 Kecamatan

Tujuh kecamatan di Padang Pariaman yang mengalami dampak banjir dan longsor antara lain:

  • Anam Lingkuang
  • V Koto
  • VII Koto
  • Batang Anai
  • Nan Sabaris
  • Sintuak Toboh Gadang
  • Ulakan Tapakih

Sejumlah nagari (desa tradisional) pun ikut terdampak, seperti Nagari Sungai Sariak di VII Koto, Nagari Campago di V Koto, hingga Nagari Seulayat dan Sungai Gimba di Ulakan Tapakih.

Dampak terhadap Warga dan Infrastruktur

  • Sekitar 4.411 warga dari 1.102 kepala keluarga terdampak banjir dan longsor.
  • Ada 160 KK (sekitar 480 orang) yang harus mengungsi sementara waktu ke tempat aman seperti masjid, balai masyarakat, rumah tetangga, dan kerabat yang tidak terdampak.
  • Korban infrastruktur cukup signifikan: 1.615 rumah terendam air, dua rumah tertimbun tanah longsor, dan badan jalan antarnagari tertimbun material longsor.
  • Ketinggian genangan air di beberapa titik bahkan mencapai 50–150 cm, membatasi mobilitas dan mengganggu aktivitas harian masyarakat.

Respon dan Penanganan Darurat

Pemerintah daerah, bersama BPBD, TNI, Polri, dan relawan setempat, langsung bergerak untuk mengevakuasi warga terdampak. Mereka mendirikan dapur umum, pos pengungsian, dan memperoleh bantuan perahu karet untuk mobilitas di wilayah terendam. Salah satu kebutuhan mendesak adalah alat berat untuk membersihkan material longsor dan perahu karet untuk evakuasi air. Selain itu, suplai makanan siap saji, selimut, dan fasilitas darurat seperti dapur umum juga sangat dibutuhkan.

Upaya Jangka Panjang: Pencegahan Banjir Menahun

Banjir di Padang Pariaman bukan hal baru, terutama di kecamatan Ulakan Tapakis. Pemerintah kabupaten secara swadaya telah melakukan normalisasi sungai Batang Ulakan dengan mengerahkan ekskavator amfibi dan alat berat lain untuk membersihkan muara dan mengangkat sedimen. Pembersihan ini bertujuan mengurangi risiko luapan sungai di kemudian hari, terutama jika volume air meningkat tajam saat hujan deras. Pemerintah juga mengajak partisipasi warga untuk menjaga kebersihan aliran sungai dan menahan sedimen agar tidak cepat menumpuk.

Tantangan dan Titik Sorot

  • Sedimentasi sungai menjadi masalah utama. Lumpur, pasir, dan sampah yang menumpuk mempersempit aliran dan meningkatkan potensi luapan.
  • Koordinasi antar lembaga perlu diperkuat agar penanganan darurat dan jangka panjang bisa lebih sistematis.
  • Partisipasi masyarakat sangat penting gotong royong membersihkan sungai, menjaga pepohonan di bantaran, dan mengurangi aktivitas yang bisa memperparah aliran air sangat krusial.
  • Sarana pengungsian dan logistik darurat harus terus dipersiapkan mengingat hujan ekstrem bisa datang kembali.

Pesan Untuk Warga

Bagi warga di kecamatan terdampak:

  1. Waspadalah terhadap potensi banjir saat hujan deras, terutama di dekat bantaran sungai.
  2. Siapkan rencana evakuasi, termasuk titik aman dan koordinasi dengan tetangga.
  3. Jaga kebersihan sungai di lingkungan Anda hindari pembuangan sampah sembarangan ke aliran air.
  4. Dukung program pemerintah dalam normalisasi sungai dan kerja gotong royong untuk mitigasi bencana.

Banjir yang melanda 7 kecamatan di Padang Pariaman akibat 4 sungai meluap adalah peringatan keras bahwa perubahan iklim dan hujan ekstrem bisa menghancurkan pemukiman jika mitigasi tidak berjalan. Upaya darurat sudah berjalan, tetapi pencegahan jangka panjang dan partisipasi masyarakat tetap menjadi kunci utama agar bencana serupa tak terulang.